F4tim3's Blog

Just the way I am…

Emotionally Dependent….

Melanjutkan pembahasan sebelum nya tentang Kecerdasan Emosi atau Emotional Intelligent atau EQ , kadang sering kita lupa.. bahwa ada banyak hal yang bisa menjadi penghalang yang menghambat kita dalam upaya mencerdaskan emosi diri,  Emotionally Dependent atau ketergantungan secara emosi adalah salah satu nya, kecenderungan untuk mendapatkan rasa aman dari orang lain adalah hal yang sangat manusiawi, jika dalam keluarga ini bisa terjadi pada anak terhadap orang tua nya, atau pada istri terhadap suami nya, atau pun sebalik nya, atau bisa juga terjadi pada kita terhadap benda atau materi yang kita percaya dapat membawa kebahagiaan, bisa berupa uang, rumah, mobil atau harta benda lain nya, namun perlu di perhatikan bahwa hal ini akan menjadi penyakit dan tidak masuk akal ketika hal ini menjadikan kita ketergantungan, baik tergantung pada orang lain, apalagi tergantung pada benda atau materi yang kita miliki, so… gak kalah penting buat  kita kenali lebih dulu dan mempelari juga tentang penyakit atau opposite nya EQ ini.

Sebelum kita bicara tentang solusi bagaimana biar kita terlepas dari penyakit ketergantungan emosi ini,perlu di kenali lebih dulu, sebenarnya apa siy ketergantungan emosi itu ? jangan-jangan selama ini tanpa sadar kita juga punya penyakit ini…hhmmm….. yang akan di bahas berikut adalah tentang kecenderungan ketergantungan kita terhadap orang lain.

Di kutip dari buku nya Margaret Paul Ph.D “Emotional Dependency V.S Emotional Freedom , mengartikan bahwa Emotional dependency in kind of  neediness and constant pull on someone else to make her /his feel loved and secure,   in the worse case, it could be deeply addicted and believe that the feelings of safety, love and lovability had to come from someone else… waaaahh.

Ternyata lumayan serem juga yah Emotianally Dependent / ED ini… sebagai mahluk sosial kita memang akan selalu butuh orang lain..dalam hal apapun..tidak ada satu manusia pun yang bisa hidup tanpa manusia lain nya… tapi dengan menggantungkan rasa nyaman dan kebahagiaan kita kepada orang lain juga gak sepenuh nya benar yah… ok..kita bahagia ketika ada orang yang mau melakukan hal baik dan indah untuk kita.. tapi bukan lantas kita tidak bahagia ketika gak ada orang lain yang mau melakukan itu untuk kita kan… hal ini yang kadang membuat kita lupa..bahwa apapun yang terjadi pada diri kita adalah sepenuh nya tanggung jawab kita masing-masing,  kadang sulit untuk di cegah, ketika ada orang tua yang cenderung memanjakan anak-anak nya dengan semua materi berlimpah, sehingga membuat anak itu kelimpungan ketika suatu waktu dia gak bisa dapetin materi itu lagi, atau ada pasangan yang terlalu memanjakan pasangan nya dengan cara yang salah, sehingga membuat pasangan nya gak bisa mandiri bahkan gak  bisa apa-apa ketika dia absen atau tidak ada di sekitar atau bahkan ketika hubungan itu harus berakhir … hhmm…. repot juga kan…?

Percaya deh… kasihan bagi yang udah terlanjur ketergantungan seperti itu..karena biasa nya akan sangat sulit untuk bisa menjadi mandiri di kemudian hari… dan bagi yang memiliki kecenderungan ini… wake up deh… kita sendiri yang akan susah kalau kita terlalu bergantung sama orang lain… terutama dalam kehidupan sehari-hari, kita cuma bahagia ketika ada yang menemani, ada yang telp atau sms..selebih nya kita sedih dan gak bahagia ketika harus sendirian… hhmmm…. coba deh perlahan-lahan kita kurangin perasaan seperti ini, perlu di tanamkan kepercayaan dalam diri bahwa, tidak ada satu pun hal yang dapat di rubah jika kita berusaha untuk merubah nya, dan kebahagian kita adalah mutlak sepenuh nya menjadi tanggung jawab kita, apapun yang orang lain lakukan adalah faktor penunjang saja, yang tanpa itu pun kita bisa bahagia… karena bahagia itu ada nya di dalam hati kita masing-masing…. coba kalau kita renungkan tentang kebalikan dari ED ini, yaitu Emotional Freedom… , Margaret memberikan pemahaman nya bahwa we are emotionally free when :

  • We don’t make others ; the past or circumstances responsible of our feelings – we do not see our self as a victim, instead, we take responsibility for causing our own suffering by noticing how we treat our self and what we tell our self and we nurture our self through the grief, sorrow and loneliness that come from painful life events, such as the death or living by our love one.
  • We are not govern by our own feelings, our feelings guide us, but we are not led around by them, we are recognize that our positive feelings of love, peace and joy are letting us know that we are taking love care of our self, and that our negative feelings of anger, fear, hurt, anxiety , depression, guilt, shame and so son are letting us know that we are abandoning our self.
  • We do not collapse our feelings, become our feelings, instead, we are a witness of our feelings and learn from them and/or nurture them.

We are emotionally free when we learn from our feelings and take loving action in our own behalf to take responsibility for our painful feelings, and for our feelings of worth, lovability, safety and security.

Dari penjelasan diatas, Margaret memberitahukan bahwa penting bagi kita untuk bebaskan diri dari perasaan tertekan, takut, masa lalu, ketidak nyamanan..dan jangan biarkan semua perasaan seperti itu menguasai kita, membuat kita menjadi seperti korban dan menjadikan orang lain sebagai “obat” nya..  karena memang  mesti nya kebutuhan akan merasa diri layak untuk di cintai, di bahagiakan mendorong kita untuk dapat mencintai dengan lebih baik, orang yang secara emosi sangat tergantung pada orang lain cenderung hanya akan menuntut diri untuk di cintai… perubahan pola fikir seperti ini yang memang sangat di perlukan agar kita tidak “terjebak” dalam ketergantungan emosi yang berlebihan..bahwa kita yang harus mengatur perasaan…. bukan sebalik nya… masih terasa sulit… ? take it easy…. terima dan cintai diri apa ada nya mungkin bisa jadi awal yang baik… dan mulai memberi dengan tulus dan percaya permasalahan apapun yang kita hadapi akan ada jalan keluar nya.. tapi jangan maksain diri yah..sekiranya kita memang butuh bantuan orang lain… why not ?… yang perlu di garis bawahi di sini adalah..jangan biarkan kebahagian kita tergantung dari apa yang orang lain lakukan atau tidak lakukan untuk kita…. pada akhir nya hanya ada satu ketergantungan yang justru sangat di saran kan…. yaitu ketergantungan kita pada yang Kuasa… karena hanya Dia yang bisa berikan kita segala nya…. setujuuu…? baiklaaaah….🙂

4 October 2010 - Posted by | Health Concern, Just thought

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: